17 Juli 2014

selamat malam, malam dan selamat pagi siang.

setiap menjelang pagi, saya selalu berbincang pada malam yang sudah tua. Ia selalu berpesan untuk menemui matahari sebelum ia pergi. tapi malam selalu pergi dan nanti datang kembali setelah perginya siang melalui senja. begitulah, kata malam, aku dan siang adalah dua yang menyatu, aku bukan siang dan siang juga bukan aku tapi kami adalah satu yang saling mengisi. Aku takkan pernah bertemu siang, kata malam, tapi melalui senja siang menjemputku dan melalui fajar aku menjemput siang, walau kami tak pernah bertemu tapi kami tetap satu, kami saling berhubungan walau kami tak bersentuhan.

malam yang sebentar lagi menjemput siang dengan berkendara fajar mendongengiku terlalu lama, hingga aku tidur sebelum senja tiba. Entahlah, sayup-sayup aku mendengar suara malam menceritakan cintanya dengan siang, menceritakan kasihnya dengan fajar dan senja yang menjadi perantaranya dengan siang. malam selalu punya cerita tentangnya dan semua mimpi yang disandarkan tiap manusia di bahunya kecuali aku yang selalu mendengar malam bercerita. Walau aku selalu tertidur dengan cerita malam sebelum fajar tiba.

malam, engkau adalah kegelapan tapi bukannya tanpa alasan kau memilih itu, kau rela menjadi perantara mimpi setiap manusia walau harus memagarimu dari siang. dan siang selalu benderang, menyinari setiap mimpi dengan matahari melenyapkan semua tawa mimpi menjadi kisah nyata. bukannya siang menjadi pemeran antagonis, tapi inilah semesta yang tiap kodratnya dibagi menjadi dua yang keduanya berbalikan namun dalam satu kesatuan.

Selamat malam kuucapkan pada malam yang memberiku kenikmatan bermimpi, memberikan bahunya untuk disandari setiap mimpi manusia di bumi. Dan tak lupa kuucapkan selamat pagi kepada siang, yang tak lelah memberi kekuatan untuk mata ini tetap terbuka, tetap melihat semua dengan kenyataan, dengan berani dan membuat diri bersyukur telah dihidupkan kembali dari bahu malam yang selalu memberi mimpi.

10 Juli 2014

golput

9 juli 2014, katanya hari yang akan menentukan masa depan indonesia untuk 5 tahun mendatang. Dengan slogan 5 menit untuk 5 tahun, ramai-ramai orang datang ke TPS untuk mecoblos presiden pilihan mereka masing-masing. Jokowi atau Prabowo hanya dua pilihan untuk Indonesia 5 tahun kedepan, tapi saya memilih untuk tidak memilih keduanya, saya golput. Bagi saya kedua calon presiden tersebut tidak sekaligus menjadi calon pemimpin bangsa ini, secara kualitatif menurut saya kedua calon tersebut tidak pantas sama sekali untuk dikategorikan sebagai calon pemimpin. Tapi secara konstitusi Indonesia, mereka sah menjadi calon presiden. 

Saya bukan pecundang yang tidak berani menentukan pilihan, saya memiliki beberapa alasan yang memang tidak harus sampeyan-sampeyan ini tahu tentang alasan saya, tapi saya punya beberapa alasan kenapa saya memilih golput setelah beberapa pemilu yang saya jalani. 

Pertama, golput itu juga termasuk pilihan, apa salahnya memilih golput. Pedoman saya adalah di antara dua pilihan masih ada opsi untuk tidak memilih karena sebaik-baik perkara adalah yang berada di tengah, jadi ketika ada dua pilihan di hadapanmu dan kedua-duanya memiliki sisi yang seimbang maka jawabannya ada dua, yaitu pilih keduanya atau tidak memilih keduanya. Selain itu masih ada pilihan lain yaitu pilih salah satu dari dua itu dengan resiko menimbulkan rasa benci dari pihak yang tidak kau pilih.

Kedua, dua calon yang disediakan sama sekali tidak memenuhi syarat pemimpin menurut saya. Kenapa? karena kedua-duanya mencalonkan dirinya masing-masing. Orang yang meminta untuk dijadikan pemimpin maka dia tidak pantas untuk dijadikan pemimpin. Untuk memperjelas ini, saya beri contoh kecil di kehidupan kita misalnya dalam sholat, dalam sholat untuk jadi imam kan tidak ada imam yang mencalon-calonkan dirinya, yang ada adalah terdapat kesepakatan alami dari tiap-tiap makmum untuk menunjuk salah seorang dari mereka untuk jadi imam. Kemudian yang ditunjuk tadi menunjukkan keberatannya namun mau tidak mau kemudian itu menjadi sebuah kewajiban bagi imam yang ditunjuk itu. Contoh dalam kehidupan sehari-hari kita sangat jelas bahwa pemimpin itu tidak ada yang mencalonkan dirinya kok semua pada mainstream ikut-ikutan mencoblos orang yang mencalonkan diri.

ketiga, dua calon ini terlalu menyempitkan pilihan saya. Katanya negara kita ini mau menganut demokrasi liberal ya tiap orang seharusnya mengirim calonnya sendiri-sendiri dong ke KPU, misal calon saya si A saya kirim ke KPU bahwa saya mau dipimpin oleh si A, si A sendiri gak tau kalau sedang saya pilih. jadinya saya bebas memilih dari seluruh orang di Indonesia ini untuk saya jadikan presiden, nah dari situ nanti jelas kondisi bangsa kita apakah masih bodoh atau sudah pintar.

keempat, bahwa mendapat pemimpin yang benar itu kan proses kesekian dari kebenaran, sebelum itu ada memilih yang benar, gimana memilih yang benar itu? gambarannya seperti pada alasan ketiga saya, bahwa pemimpin yang benar itu tidak boleh mencalonkan diri salah satunya. Selain itu secara kualitatif seorang pemimpin itu harus muncul dari bawah, dididik sedari dimensi konstitusi paling dasar untuk menunjukkan kematangannya memimpin bangsa ini. Dari kedua calon ini siapa yang secara kualitatif memenuhi syarat pendidikan untuk memimpin suatu bangsa? Prabowo? dia hanya berpengalaman memimpin militer dan mungkin dalam hubungan luar negeri, dia tidak punya bukti ketrampilan untuk memimpin rakyat kecil, tidak punya kualifikasi untuk menentukan kebijakan ekonomi, menata kota, menstabilkan harga pasar dan lain-lain. Jokowi? secara kasat mata jokowi sepertinya memang lahir dari bawah,dia kelihatannya sukses menata Solo ketika ia menjadi Walikota, sukses menata jakarta ketika menjadi gubernur. Tapi kita lihat Solo, apa yang sekarang bisa kita lihat dari solo? apa yang luar biasa dari Solo setelah ditinggal Jokowi begitu saja sebelum masa jabatannya habis?. Jakarta? hanya waduk pluit yang berhasil ditata Jokowi selama dua tahun terakhir menjadi gubernur, selebihnya jakarta masih macet, masih banjir. Dua calon presiden yang tak pantas jadi calon pemimpin bangsa yang luar biasa seperti Indonesia

kelima, menjadi pemimpin Indonesia berarti menjadi pemimpin dunia. jadi pemimpin Indonesia tidak cukup hanya tegas, tidak cukup hanya merakyat tapi juga punya wibawa di mata dunia punya maskulinitas di mata dunia. Bagaimana menjadi pemimpin bangsa ini haruslah bisa berdiri di altar dunia menjadi mercusuar dari bangsa-bangsa lain karena Indonesia terlalu banyak syarat yang telah terpenuhi untuk menjadi raksasa di mata dunia, kurang apa SDA kita, kurang apa SDM kita, mungkin dibilang SDM kita masih tertinggal, tunggu dulu, coba anda pergi ke tiap pabrik-pabrik besar di dunia, seperti Samsung, Boeing, Phillips, NASA, itu semua yang jadi mandornya orang-orang Indonesia yang di sini tidak dihargai intelektualitasnya. Nah, pemimpin Indonesia harus bisa mendayagunakan itu semua.

dari kelima alasan itu tadi saya memilih golput.

9 Juli 2014

desa sunyi

desa itu bernama sunyi,
siangnya tak berbising suara, malamnya berbunyi sepi.
siangnya berlangit mendung, malamnya lorong tak berujung
hampir setiap hari penduduk desa itu rindu
rindu pada bising suara yang menyeru
rindu pada damar berapi biru
setiap hari hanya berteman irama
irama rindu yang tak bersuara
hanya sepi dan rindu selimut desa itu
desa yang berpenduduk satu
aku.

binatang got

dari lorong got muncul pantatmu
bergoyang-goyang mengejek bingungku
aku bingung melihatmu
seenaknya ada di situ
tanpa tau siapa di hadapanmu
seenaknya keluar tanpa malu
kau jadi mengingatkanku pada mereka
yang membunuh jutaan jiwa
yang tak merasa dibisiki suara
mereka yang sembahyang pada uang
kau tau lah siapa mereka
sekarang kau lebih mulia
kau binatang dan mereka manusia
sudahlah, sampaikan saja salamku 
jika mereka sudah mirip mukamu.